Senang hati saya bila anda sudi membaca tulisan filosofis berikut agak sejenak. Sebab saya ingin mendiskusikan sesuatu yang mungkin akan berguna bagi penentuan sikap. Diri anda bagaikan Mutiara Dalam Lumpur: Barang Mahal tetapi belum mengkilat karena ‘lumpur’ lingkungan. Di kantor2, PNS sudah terbiasa bersikap ABS (Asal Bapak Senang), dalam Pemilu banyak diantara kita yang ikut2an orang lain saat mencoblos, bukan atas pilihan sendiri, di dunia kampus mungkin banyak mahasiswa yang ‘manut’ dengan dosen karena takut tidak lulus ujian, di dalam kehidupan beragama, masih banyak kita yang asal ‘nrimo’ saja apa kata pemuka agama, dalam Media Sosial kita sering memposting/forward sesuatu konten yang bukan milik kita sendiri, yang penting tampil di dunia maya, bahkan dalam rumah tangga dan kehidupan di pedesaan, perempuan masih banyak yang ‘taboo’ untuk menyatakan pendapatnya kepada pria. Ini namanya sikap TIDAK OTENTIK, mem’BEO’, tidak mencerminkan kemauan, keyakinan dan jati diri sendiri. Bila anda termasuk salah seorang dari orang2 ini, artinya anda mirip Mutiara Dibalut Lumpur!
Maka pertanyaannya ialah Apa itu Eksistensialis? Siapa nama di antara tokoh2 Eksistensialis di Barat dan apa pemikiran mereka? Apa untung-ruginya bila kita bersikap Eksistensial? Terakhir apa rintangan yang mungkin terasa untuk bersikap eksistensialis hari ini? Saya akan berupaya untuk mendiskusikannya semudah mungkin, bila terasa sulit dipahami mohon dibaca berulang-ulang! Sebagai sumber rujukan, saya ambil Medsos, Kamus dan buku. Selamat berfilsafat eksistensialis, dan jangan lupa solat sebelum menjadi eksistensialis!
Apa itu Eksistensialis? Eksistensialis berasal dari kata Exist (Ada, Wujud). Eksistensialisme adalah aliran filsafat Barat yang mengajarkan bahwa anda sebagai perseorangan wajib bertanggung jawab atas semua resiko pilihan anda, sebab anda adalah individu yang bebas. Manusia, kata Sartre, terkutuk untuk Bebas. Diri anda adalah ‘ladang proyek’ untuk menumbuhkan jati diri yang ORIsinil. Eksistensialisme tidak melemparkan tanggung jawab kepada Tuhan, agama, pemuka masyarakat, negara, dan lainnya, tetapi pada diri ANDA SENDIRI. Eksistensialisme dalam bahasa Arab disebut al-Wujudiyah. Tokoh2nya antara lain Soren Kierkegaard, Nietzsche, Heidegger dan Jean Paul Sartre (baca: Zhan Poul Sartrgh). Dalam tulisan Jum’at ini kita akan batasi pada pemikiran Sartre saja.
Apa pemikiran Eksistensialis Sartre? Ada dua konsep/istilah dalam bahasa Perancis yang mesti anda pahami: 1. Etre en Soi (baca: otrghe ng Soa), artinya Ada PADA Dirinya Sendiri. Pada tahap ini, menurut Sartre, manusia masih belum menyadari jati dirinya. Ia hanyut dalam pengaruh lingkungan yang tak menentu. Ia ada untuk orang lain, keberadaannya hanya sebagai objek. 2. Etre pour Soi (baca: Etrgh pur Soa), artinya Ada UNTUK Dirinya Sendiri. Pada tahap ini manusia sudah menyadari dirinya sendiri. Ia sudah eksistensialis, sudah tahu siapa dirinya di tengah-tengah lingkungan. Ia ADA. Karena Sartre adalah filosuf Perancis, atheis, yang tidak percaya Adanya Tuhan, maka pengertian ADA baginya mirip dengan ADA oleh Heidegger. Bagi Heidegger dan Sartre, manusia ADA di dunia ini karena ‘terlempar’, maksud ‘terlempar’ ialah ADA begitu saja, dengan sendirinya, tanpa kuasa dan iradah Allah. Ya manusia terlahir dari perut ibunya dan ‘terlempar’ ke dunia, di mana dia menemui segala sesuatu yang sudah jadi yang disebut FAKTISITAS. Manusia menemui Tradisi nenek Moyang: warisan yang sudah jadi, menemui Agama dari Nenek Moyang: warisan yang Sudah Jadi, menerima keadaan Negara yang sudah jadi, menerima kebiasaan makanan, pakaian, rumah, kendaraan, gadget yang sudah jadi. Diri kita, menurut eksistensialis, saat ini umumnya sedang terkubur dalam ‘lumpur’ sosial, ekonomi, politik, religious yang semuanya sudah jadi. Kita tak mampu menegakkan kepala dengan bebas untuk berkata ‘Ini Aku’! Dengan kata lain kita menjadi ‘Objek’ yang dikendalikan oleh lingkungan, bukan menjadi subjek (yang mengendalikan lingkungan). Lingkungan apa? Ya lingkungan kantor, lingkungan kampus, lingkungan partai, lingkungan Media Sosial, lingkungan organisasi keagamaan. Di lingkungan kantor, kita masih berpura2, bila datang pimpinan masuk ruangan maka kita pura2 bekerja, ketik computer, sembunyikan HP, iya kan? Bila pimpinan sudah pergi, hati mulai merasa lega kembali, mulai main HP lagi. Itu namanya manusia ‘PURA2’, tidak Otentik, tidak Eksistensialis. Demikian pula di kampus, bila ada ujian kita biasanya nyontek kiri kanan, nanya teman, mata melirik sana sini, tidak percaya diri, tidak bisa tegak kepala dan mengatakan ‘Ini Aku’. Aku yang sebenarnya, aku yang tidak nyontek kiri kanan. Tidak mampu menjadi Aku yang eksistensialis. Di lingkungan partai, semua kebijakan harus menunggu aba2 dari Ketua Umum Partai. Tidak bisa mengutarakan apa2 yang betul2 menjadi inspirasi masyarakat. Inspirasi masyarakat hanya tinggal dalam kepala, dalam wacana, tetapi untuk ditindak lanjuti?…tunggu dulu aba2 dari Ketua Umum. Ini wakil rakyat yang tidak Eksistensialis.
Bahkan di lingkungan Media Sosial, kita biasanya suka memposting sesuatu yang bukan punya kita, bukan ide kita, tetapi cuma meneruskan (forward) postingan tersebut kepada HP orang lain, untuk apa???? Itu namanya manusia tidak eksistensialis, tidak ORIsinil, bukan milik sendiri, bukan hasil pikiran sendiri. Hidup dalam bayang2 kepalsuan! Bahkan di lingkungan sosial keagamaan, kita ikut NU, ikut Muhammadiyah, tetapi apakah kita mengerti apa yang betul2 diinginkan oleh NU, oleh Muhammadiyah dalam beragama? Biasanya kita ikut NU karena orang tua kita sudah NU, sekolah kita NU, guru2 kita NU, masyarakat kita NU…tetapi apa itu sebenarnya NU? Nggak tahu, ya ikut aja. Ini namanya tidak ORIsinil NU. Demikian pula berMuhammadiyah, kita biasanya ikut saja karena orang tua kita orang Muhammadiyah, sekolah kita Muhammadiyah, Universitas kita Muhammadiyah, lingkungan kita Muhammadiyah…..tetapi apa sebetulnya hidup beragama menurut Muhammadiyah? Entahlah. Ini namanya manusia tidak ORIsinil. Bahkan ada pengakuan beberapa pejabat kantor yang berafiliasi dengan Muhammadiyah, tatkala dipindah tugaskan ke kantor lain yang di lingkungan NU, identitas Muhammdiyahnya disembunyikan. Demi apa? Mungkin demi meraih posisi jabatan di kantor yang baru. Ini namanya bukan Muhammdiyah ORIsinil, bukan Eksistensialis. Dari sederetan data2 empirik di atas, tidak disangkal lagi memang kita umumnya TIDAK EKSISTENSIALIS.
Bila demikian, apa pertanyaan yang cocok untuk menjadi eksistensialis? Bagaimana cara untuk mengenali Jati Diri sendiri, Siapa Aku? Harus bagaimana Aku? Kemana akan ku arahkan hidupku? Ini semua diringkas dari Etre en Soi menuju kepada Etre Pour Soi. Seumpama ada kebakaran rumah, anda akan berusaha mati2an memadamkan api dengan sekuat tenaga, dengan segala kemampuan, tidak lagi mendengar nasehat orang, tidak lagi membaca buku panduan memadamkan api: itu namanya sikap eksistensialis, percaya pada diri sendiri. Sekarang anda ibarat Mutiara, anda dituntut untuk bangkit dari dalam lumpur, bersihkan diri, tegakkan kepala, pikir sendiri jalan yang terbaik, ambil tindakan untuk membersihkan dan mengasah diri agar Mutiara anda mengkilat bagaikan INTAN BERLIAN. Jangan bilang ‘Nasibku memang sudah begini, sudah taqdir Tuhan’. Campur tangan Tuhan itu tidak ada kata Sartre. Tuhan hanya sebutan Zat Maha Kuasa bagi orang2 beragama (Islam, Kristen, Yahudi dan agama2 lain) yang belum eksistensialis. Di sini kita tentu TIDAK setuju dengan Sartre.
Lebih jauh, dalam filsafat eksistensialisme Sartre dikenal istilah Eksistensi mendahului Esensi. Keberadaan mendahului penemuan jati diri. Ada dulu, sadar diri kemudian. Artinya semula manusia ‘terlempar’ ke dunia, dia eksis, dia ada dalam kecemasan: ‘Angst’ bahasa Jermannya, dia masih pada tahap Etre en Soi, hidup dalam bayang2, di depannya ada kecemasan, tetapi lama kelamaan dia menuju kepada esensi, kepada kematangan diri pribadi dengan menjadi Etre Pour Soi. Jadi ada tahapan. Ada proses. Yang menjadi persoalan bagi kita, kita tak sadar kelangsungan PROSES tersebut, tetapi tenang saja dalam ‘lumpur’, pasrah pada ‘nasib, pada taqdir’, kita bersembunyi di balik istilah2 teologi, sambil mengatakan ‘Ini sudah taqdir Ilahi’. Bila Sartre mendengar dalih tersebut, mungkin dia akan tertawa terbahak-bahak hingga sakit perut. Pantaslah orang Indonesia tak maju2 katanya, mereka hidup dalam bayang2, bukan dari keinginan terdalam…keinginan yang se sadar2nya….kira2 begitu (menurut dugaan saya), mungkin juga saya salah.
Orang eksistensialis tidak percaya ‘retak tangan’, ‘alur nasib’. Orang eksistensialis tak percaya qadar baik,qadar buruk: di sini kita umat Islam jelas menolaknya. Orang eksistensialis tak percaya kata2 Mbah, kata sesepuh, kata Mak, kata Bapak, kata teman, kata Dukun, apalagi kata ‘Tuyul’. Baginya, sebagaimana penjelasan Rocky Gerung, anti-tesis sudah termaktub jelas dalam tesis. Dia percaya dan harus percaya bahwa segala perbuatan datang dari kesadarannya sendiri dan segala konsekwensi yang timbul adalah akibat wajar dari perbuatannya. Artinya akibat perbuatannya disadarinya sudah termaktub dalam pekerjaannya. Ada segi positifnya pandangan ini bila diambil. Koruptor tidak akan mengatakan bahwa masuk bui adalah retak tangannya, tetapi akibat ulahnya sendiri. Banjir dan Longsor (anti-tesis) di Sumatera baru2 ini akan diakui sendiri oleh para pemilik konsesi perkebunan akibat ulah tangannya, sebagai akibat (tesis) deforestasi, penebangan hutan, yang lebih suka memperluas perkebunan sawit dan penggundulan hutan dari pada memikirkan keselamatan orang lain. Ini bila mereka jujur sebagai eksistensialis. Para perusak hutan tersebut nampaknya bukan Eksistensialis tetapi opportunis (Cuma memikirkan keuntungan diri sendiri).
Bagaimana dengan sisi negative eksistensialis? Bila anda batal menikahi pacar anda, tidak jodoh, tidak sampai ke pelaminan, apakah kesalahan ada pada diri anda, bukan karena taqdir Tuhan? Ini akan bertabrakan dengan teologi Jabbariyah kita. Bagaimana cara mendamaikan teologi kita dengan paham eksistensialis saya tak tahu. Yang saya tahu bahwa Prof. Quraysh Shihab mengatakan bahwa jodoh itu bukan di tangan Tuhan, tetapi jodoh itu ‘dijemput’ katanya. Ini kedengarannya agak eksistensialis. Bagaimana pula dengan kisah romantis Zainuddin yang kandas menikahi Hayati dalam novel Hamka ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’, apakah anda melihat pengarangnya berhaluan eksistensialis? Bila iya, maka Hamka dan Quraysh Shihab bisa dikatakan telah ‘menggeser’ pelan2 paham Jabbariyah kita, meskipun belum eksistensialis tulen.
Seorang suami yang eksistensialis tidak akan menyesali perjodohannya sebagai suratan nasib, sebagai taqdir Tuhan, tetapi murni karena pilihannya sendiri. Demikian pula kisruh dalam rumah tangga anda, eksistensialis akan menyalahkan anda sendiri, bukan menyalahkan jodoh anda. Seorang Muslim eksistensialis menjadi kaya diyakininya sebagai akibat kerja keras, banting tulang sendiri, hasil keringat sendiri, bukan karena sudah ditakdirkan Tuhan. Bahkan bila seorang eksistensialis memberikan donasi, bantuan, kepada orang bukan diyakininya karena suruhan agama, tetapi karena dia yakin berdonasi adalah kebaikan yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri. Singkat kata, bila dia mati, maka mati adalah akibat wajar kelalaiannya memelihara nyawa…seandainya pandai memelihara kesehatan dan keselamatan badannya tentu umur akan panjang. Anda setuju? Semua tertimpa kepada diri sendiri. Mungkin paham eksistensialis semacam ini masih sulit untuk diterima. Tetapi anehnya, bila Gibran jadi Wapres, lalu kita menyalahkan 100% akibat kelakuan Jokowi, bukan karena taqdir Tuhan…aneh..aneh…pada posisi ini kok kita yang terseret menjadi eksistensialis…bukannya Jokowi? Di sini terselip makna bahwa bila kita pada posisi beruntung/tidak beruntung secara perorangan, kita bilang akibat taqdir Tuhan. Namun bila kita beruntung/malang secara bersama2, kita cenderung menuduh lawan dari sudut paham eksistensialis. Sementara dalam Google disebutkan bahwa untuk menjadi orang suci bagi seorang eksistensialis, ia tidak perlu diperintahkan Tuhan, tetapi cukup dari diri sendiri, sebab akal (ratio) mampu mengenali nilai2 luhur yang memang telah lengket dalam alam. Ini mirip dengan pendapat Mu’tazilah.
Lalu bagaimana sikap yang eksistensialis ala Islami? Ada dua contoh yang saya ingat. Pertama, contoh kata2 mutiara dari Ali bin Abi Thalib. ‘Laysas Syabab man qaala hadza Abuya, wa lakinnas Syabab man qaala Haa Ana dza. (Yang betul2 dikatakan Pemuda bukanlah yang bilang…Ini lho Bapakku (hebat), tetapi yang ORIsinil pemuda adalah yang bilang ‘Ini lho Aku’). Tepuk dada sendiri, tegakkan kepala, nyatakan AKU yang sebenarnya, jangan cuma membanggakan Bapak. Kedua sikap Umar bin Khattab ketika solat. Dikatakan bahwa suatu kali Umar kena panah, dan ujung panah tersebut menusuk tubuhnya, sakit, pedih bila dikeluarkan. Lalu dia minta tunggu dikeluarkan anak panah tersebut hingga dia sedang solat. Saat sedang solat itu Umar betul2 khusyu’ mengingat Tuhan, lupa anak panah yang tertancap di tubuhnya, dia sedang ORIsinil dalam solat, tidak terpengaruh oleh lingkungan, saat itu Umar sedang mengalami proses Eksistensial menurut saya. Menurut anda bagaimana?
Kesimpulan. Secara empiric, diskusi di atas menunjukkan bahwa di negara kita sulit menumbuhkan dan mewujudkan paham eksistensialis untuk tujuan2 positif konstruktif. Warga NU sangat kuat memegang nilai2 dalam Tradisi, jika berani menyalahi nasehat kiyai ada hukuman ‘kualat’. Di dunia Pemerintahan, anak buah menggantungkan periuk nasinya dengan bos. Sedikit nampak kurang setia pada pimpinan, resiko krisis ekonomi rumah tangga menunggu. Di bangku kuliah, mahasiswa tak berani berbeda pendapat dengan dosen, masih banyak yang takut dak lulus. Di kampung2, perempuan masih tak boleh bersuara menyatakan pendapat pribadinya dalam pertemuan rapat. Bahkan dalam suatu keluarga, anak seringkali dianggap durhaka bila berbeda pendapat dengan orang tuanya. Jadi masyarakat kita sangat komunal, relasinya bersifat patron-client, paternalistic, susah tumbuh paham eksistensialis. Mungkin paham eksistensialis akan kontributif dalam hal2 terkait urusan duniawi, misalnya birokrasi, legislative, Pemilu, bisnis dan dunia pendidikan, tetapi sejauh ia terkait dengan urusan keyakinan: kita perlu memikirkan kembali sendi2 ‘aqidah kita yang menopang teologi. Bagaimanapun juga, kata2 taqdir Tuhan nampaknya sudah semakin merapat kepada nasib perorangan, tetapi bila menimpa nasib orang banyak, seperti tragedi longsor di Sumatera baru2 ini, nampaknya suara eksistensialis lebih kuat dari pada suara teologis.
Significance of Issue (Hikmah). Kira2 dimanakah posisi kita hari ini? Bila diterima spirit eksistensialis, ‘aqidah kita terganggu. Bila tidak diterima spirit eksistensialis…nyatanya kita ambivalent: kita umumnya meyakini bahwa Gibran jadi Wapres sepenuhnya adalah akibat ulah Jokowi, artinya kita berpihak pada paham eksistensialis…tetapi tentang korban banjir di Sumatera baru2 ini suara2 para da’i dan tokoh agama malah menyalahkan prilaku umat yang dikatakan telah banyak berbuat dosa, bukan prilaku investor dan penebang hutan, kita tidak eksistensialis. Pertanyaannya ‘Seandainya rakyat Indonesia telah lama menerima paham eksistensialisme Sartre (di luar bidang agama), kira2 sudah seberapa jauh majunya budaya keseharian kita hari ini?’
Demikianlah diskusi kita Jum’at ini Bapak2/Ibuk2/Adik2 semua. Sekarang terserah pada anda, sisi manakah dari eksistensialis yang elok untuk diambil, dan sisi mana yang akan ditolak? Sekian, maaf bila ada salah tulis, salah ide, salah interpretasi. Wassalam. Amhar Rasyid, Jambi.