Senang jumpa lagi dengan anda semua dalam diskusi yang bersifat filsafat ilmu pengetahuan tentang ideologi2 yang seharusnya anda pahami. Dalam acara Podcast Felix Siauw, seorang ustaz keturunan Tionghoa dan pernah berafiliasi dengan Hizbut Tahrir, bernama ‘Komunitas YukNgaji’ yang membicarakan Dialog Ideologis mengenai Kapitalisme, Socialisme, Komunisme dan Islam ternyata ada cerita menarik yang mungkin belum banyak kita ketahui, terutama bagi generasi muda. Memang di bangku kuliah para dosen telah sering menjelaskan konsep2 ideologis di atas, tetapi yang jarang orang ketahui mungkin apa kritik socialisme atas kapitalisme dan segi apa yang ditawarkan oleh Islam sebagai ideologi. Orang bilang Islam bukan ideologi tetapi bukankah ia pernah dijadikan ideologi bagi sebagian orang, tatkala nilai2 universal Islam ‘dipersempit’, ‘dikhususkan’ untuk mencapai tujuan tertentu. Tesis saya di penghujung nanti ialah bahwa hermeneutic lebih inklusif dari pada metode terutama bagi acuan pemikiran ideologi Islami. Nah kita ingin diskusi epistemologis filosofis semacam itu sebaiknya kita kemas bersama sebagai tema kita hari ini dengan endingnya diseret kepada mewaspadai bahaya Comunisme. Berbeda dengan Podcast Felix Siauw, diskusi kita bukan untuk keberpihakan kepada suatu ideologi tertentu tetapi untuk mengasah otak guna melihat dengan lebih jernih mengapa dunia menjadi seperti ini sekarang akibat ulah ideologi2 bikinan otak manusia?
Pertama, apa itu Kapitalisme dan apa kritik Socialisme atasnya? Kapitalisme berasal dari kata Kapital yang berarti modal, dalam bahasa Arab Kapitalisme disebut Ra’su Maliyah. Sementara Isme berarti aliran, pemikiran yang dianut oleh sekelompok orang demi mengejar tujuan yang mereka inginkan. Maka Kapitalisme menurut Google adalah system ekonomi dimana orang pribadi menguasai alat2 produksi seperti modal, pabrik dan bisnis. Keputusan produksi, harga komoditi dan jasa didorong oleh pasar bebas yang ditentukan oleh supply and demand, dalam istilahnya dikenal dengan Laissez-Faire Laissez-Passer (Biarkan saja). Artinya campur tangan pemerintah seminim mungkin (biarkan saja pasar yang menentukan). Negara hanya menfasilitasi, tetapi tidak terlalu mengontrol hak kepemilikan pribadi. Contohnya di Amerika Serikat, Monaco, dan Singapore hari ini. Apakah negeri kita juga menganut Kapitalisme? Jelas tidak tetapi dorongan ke arah itu nampak ada. Jurang perbedaan antara si kaya dan miskin sangat kentara dalam system Kapitalisme. Dalam negara Kapitalisme anda bebas berusaha cari duit selama tidak bertentangan dengan aturan negara, bebas buka usaha Rumah Makan Padang, buka Casino, Rumah Bordil, Judi, Adu Tinju dan lainnya. Bebas! Kata Felix Siauw ini berbahaya. Kalau di Indonesia, menurut saya, usaha2 haram yang bertentangan dengan agama bisa2 dibakar massa. Kapitalisme memang tidak dianut di sini tetapi Oligarki nampak sukses.
Dan apa itu Socialisme? Dalam bahasa Arab ia disebut Isytirokiyah. Kata Google, Socialisme adalah system ekonomi dan ideologi politik. Berbeda dengan Kapitalisme, dalam socialisme sudah ada kata ‘ideologi politik’ yang berarti pemerintah turut campur tangan dalam mengatur kepemilikan alat2 produksi dan distribusi demi orang banyak. Kata Felix Siauw Socialisme juga berbahaya, sebab ia sudah setahap lagi mendekati Komunisme. Apa itu Komunisme? Komunisme berasal dari kata Commune artinya orang banyak. Tatkala sudah berobah menjadi Isme, maka Comunisme adalah juga ideologi ekonomi dan politik tetapi lebih dahsyat sebab Komunisme ingin menciptakan masyarakat tanpa kelas, tanpa kepemilikan pribadi, semua alat2 produksi, lahan2 perkebunan super luas, dikuasai oleh negara, bukan dikuasai oleh pemodal2 besar seperti di negeri kita oleh para 10 Naga, Agung Sedayu, Sinar Mas dan Lippo Group, juga 16 PT milik Luhut mulai dari sekitar Danau Toba hingga Indonesia Timur dan banyak lainnya. Bukan Kapitalis, bukan pula Socialis tetapi Oligarki bercokol di Indonesia.
Bagaimana Kapitalisme dikritik oleh Socialisme? Salah satu kritik Socialisme atas Kapitalisme adalah ‘Alienasi’. Alienasi adalah ‘Keterasingan’. Socialisme secara idelogis dekat dengan Comunisme, peduli dengan nasib kaum proletar. Dalam kuliah filsafat Prof. Bambang Sugiharto di UNPAR Bandung dikatakan bahwa Comunisme di Indonesia ditakuti membicarakannya karena ia terkait dengan PKI, tetapi sebenarnya ada sisi positif kritik Comunisme atas Kapitalisme yang perlu didengar yaitu: Alienasi. Orang merasa terasing, tersisih, tatkala pabrik2 besar Kapitalis bekerja, orang hampir tidak tahu lagi untuk apa hasil produksi yang kita buat. Misalnya seorang buruh pabrik milik Kapitalis, dia hanya tahu membuat spare part mobil. Dia tak pernah tahu untuk siapa, untuk mobil apa dan dimana, kapan spare part itu akan digunakan nanti. Waktu dan umur orang tersebut habis ditelan oleh ‘keterasingan’ waktu, tempat dan kekosongan jiwa. Hanya roda2 pabrik yang terus bergelinding, hiruk pikuk, katanya demi mencari sesuap nasi, pergi pagi pulang petang, akibatnya manusia mengalami ‘alienasi’. Kritik semacam ini ada benarnya.
Comunisme itu memang sangat berbahaya kata Felix Siauw. Ideologi ini menghalalkan segala cara demi negara bisa berkuasa. Manusia hanya dipandang sebagai setumpuk daging yang bisa saja dibunuh demi kepentingan ideologi. Apa2 yang menghambat demi terwujudnya Comunisme boleh saja dienyahkan, misalnya kiyai2, ulama, ustaz, buya, pendeta, biksu, tokoh2 masyarakat panutan umat boleh saja dihabisi nyawanya bilamana perlu. Agama dipandang sebagai ‘candu’, membuat orang awam ketagihan, ngelamun pada kehidupan akhirat, lupa bekerja demi produksi milik negara. Sebentar2 mau azan, mau wudhu’, sebentar2 solat, sebentar2 zikir dan berdo’a..hanya menghabiskan waktu. PKI membenci Islam dan telah membuktikan pengalamannya di Indonesia. Maka yang ditakuti bukan anak cucu PKI, kata Felix Siauw, tetapi ideologinya yang terus hidup di tengah masyarakat meskipun anak cucu PKI dibendung untuk beraktifitas di negeri ini. Akan lebih tepat, bukan anak cucu PKI yang anda suarakan waktu demo tetapi ideologinya, ia ibarat api yang terus menyala di balik akar2, di lapisan bawah tanah padang rumput yang luas. Di zaman Orba disebut ‘Bahaya Laten’.
Bagaimanapun juga sejarah dunia mencatat bahwa kedua ideologi tersebut, Capitalisme dan Komunisme, selalu bertarung, selalu ada yang mendukung, selalu sama2 ingin bermotifkan mewujudkan kesejahteraan. Kesejahteraan bagaimana? Kesejahteraan yang, menurut para ahli, berbeda dengan ideologi Islam. Bagaimana bedanya? Dalam Islam diajarkan bahwa harta dunia ini milik Allah, manusia adalah Khalifah Allah di bumi yang bertugas memakmurkannya. Tanah, air, api dan rumput adalah hak bersama, bukan milik orang2 kaya Kapitalis saja, bukan pula milik negara sepenuhnya sehingga rakyat tak berhak memiliki perkebunan, niaga, transportasi dan jasa, pabrik dan usaha developer perumahan. Orang Islam secara pribadi berhak jadi kaya asalkan bayar zakat. Fakir miskin dan anak2 terlantar ditanggung oleh negara dan kita harus menyantuni mereka. Orang lain tak boleh sembarang dibunuh, meskipun berbeda agama. Orang Islam menghormati orang Kristen, China, dan orang Barat lainnya. Islam bisa dijadikan ideologi tatkala ia disempitkan, dirumuskan untuk mengejar cita2 organisasi tertentu. Dari diskusi di atas, lalu bagaimana sebaiknya sikap generasi muda ke depan?
Pertama, adik2 generasi muda bila anda ditakdirkan Tuhan menjadi pemimpin bangsa ini cobalah memimpin dengan hati nurani, timbang rasa, berkomitmen untuk kesejahteran rakyat banyak, bukan untuk umat Islam saja, bukan hanya untuk konglomerat dan Oligarki. Kini Podcast2 oleh Mahfud MD, Said Didu, Refly Harun dan Abraham Somad kedengarannya menyuarakan bisikan ‘hati nurani’ rakyat Indonesia. Ia inspiratif, menggelitik hati nurani, dan mencerahkan pada dataran ide. Entah di masa depan saya tak tahu bilamana mereka sempat masuk ke system Pemerintahan. Let History tells then.
Kedua, Doa2 kita seusai solat seyogyanya dirumuskan ulang, sebab banyak doa2 kita yang merupakan warisan lama, warisan ulama klasik, bukan warisan Nabi, yang hanya mendoakan kaum Muslimin saja, sementara hidup di zaman modern saling ketergantungan dengan dunia luar, dunia non Muslim. Bacaan doa ‘fi baladina haza khossoh’ (artinya khusus kesejahteraan di Indonesia saja) seharusnya dirobah untuk mendoakan keselamatan semua anak manusia, dunia global, sebab sawit milik rakyat di Sumatera dan di Kalimantan misalnya, harus diekspor ke negara2 non Muslim, dan bila mereka tak membelinya dengan apa mau dicicil kredit bank, kredit mobil dan motor? Ekonomi Rumah tangga kita dan biaya anak2 kuliah sangat tergantung dengan daya beli minyak sawit (CPO) di luar negeri oleh non Muslim, bukan oleh negara2 Arab. Tak percaya? Silahkan simpan saja buah sawit anda di belakang rumah hingga busuk dan jangan dijual ke pabrik2! Ideologi Islam akan semakin Islami bilamana ia mampu belajar, bercermin diri dari Kapitalisme dan Socialisme menurut saya. Doa kita usai solat memerlukan ideologi dalam implementasinya. Doa kita kadang2 terputus dengan ideologi.Usai berdoa, kita biasanya tutup muka dengan kedua telapak tangan…Amin, bukan disusun ke dalam kerangka kerja.
Kesimpulan, dari diskusi ideologis olef Felix Siauw banyak manfaat bisa dipetik. Ternyata Isme2 di atas adalah bukti manusia berpikir untuk mewujudkan kesejahteraan, tetapi ada yang dibimbing oleh ratio semata dan ada pula oleh Kitab Suci. Kapitalisme dan Socialisme lepas dari ajaran Kitab Suci, yang penting sejahtera, kenyang perut. Kapitalisme mau menang sendiri, mewah sendiri, bila perlu injak saja si miskin. Komunisme memaksakan agar negara ikut campur tangan, bila perlu bunuh saja manusia. Tidak ada hidup di akhirat, itu hanya ‘khayalan’ kata mereka. Islam sebagai ideologi mengambil jalan tengah, menunjuki manusia agar hidup bertanggung jawab, dan mempertanggung jawabkan amal usahanya kepada Yang Maha Kuasa. Sebab di balik kekenyangan perut, ada kekenyangan rohaniah, spiritualitas. Wa mal hatad dunya illa mata’ul ghurur (Kenikmatan duniawi hanya fatamorgana). Demikianlah diskusi kita yang terinspirasi oleh Podcast Felix Shiaw, bedanya dia lebih cenderung berdakwah Islamiyah, lebih preferensial, sementara diskusi saya ini lebih epistemologis, filosofis dan nasionalisme. Islam lebih bersahabat dengan sosialisme kata pengarang Mesir sehingga disebutnya Isytirokiyah Islamiyah, coba bandingkan di Mesir harga sembako, sandang, dan perumahan diatur oleh negara, PLN dan PDAM gratis. Di negara Panca Sila biaya PLN berat, orang2 kaya di Jakarta semakin banyak terdengar di Medsos, Rupiah banyak beredar di pusat, Crazy Rich bermunculan, sementara kita yang di daerah banyak yang miskin. Apakah ideologi Islam lebih baik? Mungkin saat ini ideologi Pancasila baik tetapi yang dipertanyakan realisasinya?
Significance of Issue (Hikmah). Maaf diskusi kita di penghujung ini agak semakin berat sebab ia filosofis. Pertama, PKI di Indonesia memang menimba inspirasi ideologinya dari Comunisme hasil buah pikiran Karl Marx (a classless society). Filsafat Marx diinspirasi oleh filsafat Hegel. Bagi Hegel, Roh Absolut menampakkan dirinya dalam sejarah, selalu berproses dalam 3 langkah dialektis: tesis, anti-tesis dan sintesis, tetapi ide Hegel masih dalam kepala. Bagi Marx, ide jangan hanya dalam kepala, tetapi harus diwujudkan ke dunia nyata, bila perlu dengan kekerasan, dengan revolusi, dengan darah. Peristiwa Lobang Buaya adalah bukti nyata, anti-tesis, bahwa kekuasaan (sintesis) di Indonesia harus direbut dengan cara apapun oleh PKI, meskipun berdarah dan nyawa, sebab Jenderal A. Yani dkk itu hanya penghambat, dan dalam ideologi PKI para jenderal tersebut hanyalah tumpukan daging, materi yang tak berharga, menyangkal pertanggung jawaban ukhrowi. PKI menganut ajaran materialisme historis.
Sejarah menyebut antara lain 2 nama tokoh PKI di Indonesia: Tan Malaka dan DN Aidit. Dalam diskusi keilmuan di Podcast lain ternyata Tan Malaka dan DN Aidit berbeda jauh dalam implementasi Comunisme di Indonesia. Tan Malaka, orang kampung saya dari Payakumbuh itu, dikatakan lebih memilih berjuang di balik layar, di luar negeri, sering ke Moscow, dia tak setuju dengan revolusi import ala negara2 Komunis, tetapi harus punya corak revolusi eksklusif Indonesia, menggabungkan Komunisme dengan Islam dan anti pertumpahan darah. Maka Tan Malaka didepak dari Politbiro di Moscow tetapi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Keppres No. 53/1963 (dua tahun sebelum G 30/S). Sementara DN Aidit, putra Bangka Belitung kampungnya Yusril Ihza Mahendra, lebih memilih perjuangan dalam negeri, mati2an merangkul rakyat jelata dan Pemerintah, NASAKOM, dekati Bung Karno, tetapi Aidit khianat kepada negara, membunuh para jenderal, bila perlu cabut nyawa para kiyai, buya dan ustaz2 yang dikatakan selalu menghidangkan ‘candu’ kepada masyarakat. Berbeda dengan Tan Malaka, Aidit tidak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Akhirnya dapat dikatakan bahwa secara filosofis, Hegel tidak langsung merusak Indonesia meskipun putranya terbunuh di Indonesia sebagai tentara Belanda, tetapi buah pikirannya kemudian diadopsi oleh Karl Marx dan mencapai klimaks pada konsep Comunisme. Sebagai pemikiran Barat, Comunisme memang eksklusif di Indonesia yang berwujud PKI, karena dipengaruhi oleh space and time, but such history of my country philosophically underwent the process of Hegel’s dialectics, that of the realization of The Absolute Spirit. Roh Absolut ala Hegel tersebut diyakini secara metafisis mewujudkan dirinya dalam sejarah Indonesia yang terus berulang. Anda sebagai generasi muda calon pemimpin bangsa harus HATI2, sebab Comunisme itu sulit dihabisi pada dataran ideologi bukan pada orangnya. Bukankah negara2 Komunis sudah pada roboh pak Amhar? Iya tetapi al-Qur’an bilang ‘Kullu ma ‘alayha fanin’ (Segala sesuatu dalam alam ini fana), tak bertahan lama, tetapi muncul lagi versi baru. Filsafat sejarah juga mengenal Cyclical Theory. Boleh jadi Comunisme versi baru akan bangkit lagi dari tidurnya dengan memanfaatkan, antara lain, teknologi AI dan sebagainya. Who knows?
Kedua, dalam Muhammadiyah sudah disusun ideologi Islami, ada konsep Islam Berkemajuan…ini bukti nilai2 Islam universal dieksklusifkan, dirumuskan untuk mewujudkan cita2 Gerakan Muhammadiyah. Tatkala nilai2 universal Islami dijadikan ideologi, biasanya ia bertolak atas penafsiran teks suci. Sekarang kita boleh bertanya, mana yang lebih dahulu: penafsiran atau pemahaman? Bagi Heidegger, pemahaman lebih dahulu dari pada penafsiran. Penafsiran muncul karena adanya pemahaman. Seandainya ideologi keislaman bertolak dari pemahaman, maka implikasinya hermeneutic memang diperlukan menurut saya. Tetapi bila ideologi berdasarkan atas penafsiran (Manhaj), maka metode sangat diperlukan dan Muhammadiyah telah menyusun Manhaj Tarjih. Bagaimana hasilnya bila ideologi keislaman disusun berdasarkan proses dialektis yang implisit dalam hermeneutic? Boleh jadi hasilnya akan lebih inklusif, lebih luas cakupannya, sebab Kapitalisme, Socialisme dan Comunisme adalah hasil buah kontemplasi pemikiran manusia yang tidak menggali kepada Being sehingga terperangkap kepada Pragmatisme. Ideologi berbasis Islam janganlah pragmatic.Wallahu a’lam!
Demikianlah diskusi filsafat pengetahuan kita Bapak2/Ibuk2 dan adik2 terhormat semuanya. Terimakasih telah membaca, Mohon maaf bila ada kesalahan, pamit, Amhar Rasyid, Jambi.