Imawati Reni Cahayani (G1C124003)
Esti Cahya Kumala (G1C124006)
Rizka Khansa Shafira (G1C124025)
Dini Febrianti (G1C124030)
“Apakah orang yang pagi hari ia ceria, lalu sore sedih, dan malam marah berarti memiliki banyak kepribadian?” Eitss belum tentu! Gangguan bipolar tidak sama hal-nya dengan kepribadian ganda. Lalu, apa sebenarnya perbedaan dari keduanya? Mari kita luruskan faktanya!”
Bipolar dan kepribadian ganda adalah dua hal yang sangat berbeda. Bipolar berkaitan dengan perubahan suasana hati (mood), sedangkan kepribadian ganda berkaitan dengan adanya lebih dari satu kepribadian dalam satu tubuh.
Perbedaan Bipolar dan Kepribadian Ganda
Berdasarkan buku Nevid (2005), bipolar adalah gangguan psikologi yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang ekstrem, serta perubahan tingkat energi dan aktivitas. Perubahan suasana hati yang dimaksud seperti, seseorang bisa berada di puncak kebahagiaan yang luar biasa (fase mania) selama beberapa minggu, lalu kemudian tenggelam dalam kesedihan yang sangat dalam (fase depresi) atau bahkan sebaliknya. Perlu teman-teman ketahui bahwa gangguan bipolar ini tidak dapat disembuhkan, akan tetapi terapi dan pengobatan dapat membantu mengelola gejala yang timbul.
Lalu, apa bedanya dengan kepribadian ganda? Kepribadian ganda, atau secara psikologi biasa dikenal dengan Dissociative Personality Disorder (Gangguan Identitas Disosiatif) adalah gangguan dimana penderitanya memiliki dua kepribadian atau lebih, yang masing-masing mempunyai sifat yang berbeda. Nah, dari sini, sudah tergambarkan bagaimana perbedaan dari dua gangguan tadi?
Gejala Gangguan Bipolar
Episode Mania
Merupakan periode dimana pengidap akan terlihat sangat aktif, seperti merasa sangat percaya diri, pikiran melompat-lompat, banyak bicara, sangat ber-enerjik hingga tidak tidur beberapa hari, dan bisa sampai melakukan hal-hal yang berisiko. Episode ini berlangsung setidaknya selama satu minggu dan muncul hampir sepanjang hari. Episode ini dapat menyebabkan gangguan pada kehidupan sosial, pekerjaan, bahkan memerlukan rawat inap untuk mencegah bahaya pada diri sendiri atau orang lain.
Episode Hipomania
Episode ini tidak jauh berbeda dengan episode mania, hanya saja episode hipomania berlangsung setidaknya selama empat hari dan dapat berlanjut hingga beberapa bulan. Gejala yang dialami juga sama, seperti merasa sangat percaya diri, sangat banyak bicara, mudah terganggu, dan pikiran yang mudah terganggu. Bedanya, episode ini tidak cukup parah untuk menyebabkan gangguan signifikan dalam fungsi sosial atau pekerjaan pengidapnya.
Episode Depresi Mayor
Merupakan periode dimana seseorang mengalami depresi yang berat seperti kehilangan minat pada sesuatu yang disukai, suasana hati yang tertekan hampir sepanjang hari, perubahan pola tidur dan nafsu makan yang signifikan, perasaan tidak berharga, hingga pikiran berulang tentang kematian. Periode ini muncul setidaknya selama dua minggu dan menyebabkan penderita mengalami gangguan signifikan dalam konteks sosial, pekerjaan, atau area fungsi lain.
Berdasarkan perputaran episode diatas, sebagian pengidap gangguan bipolar dapat mengalami fase normal antara episode mania dan episode depresi. Tetapi, banyak juga pengidap yang mengalami perputaran cepat dari mania ke depresi atau sebaliknya, tanpa adanya periode normal, atau biasanya disebut rapid cycling.
Faktor Risiko Gangguan Bipolar
Beberapa faktor yang bisa menyebabkan risiko munculnya gangguan bipolar antara lain sebagai berikut:
Dari pengalaman masa lalu, seperti kurangnya kasih sayang orang tua dan trauma atau pengalaman buruk.
Dari kepribadian dan cara berpikir, seperti terlalu bergantung pada orang lain, selalu berpikir negatif, dan stress berlebihan.
Dari faktor keturunan dan biologis, seperti riwayat keluarga, faktor genetik, dan ketidakseimbangan zat kimia otak.
Dari mengonsumsi zat-zat psikoaktif, seperti narkoba dan alkohol.
Stigma Masyarakat Terhadap Penyintas bipolar
Stigma terhadap gangguan bipolar masih menjadi penghalang besar bagi penderita untuk mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Banyak masyarakat yang keliru menganggap bipolar sebagai “individu dengan kepribadian ganda”, padahal ini adalah kondisi medis yang membutuhkan penanganan dari professional. Stigma terhadap penyintas bipolar, seperti mereka “berbahaya”, “tidak terduga”, dan “tidak bisa sembuh” membuat masyakat sering kali menjaga jarak dan mendiskriminasi penyintas gangguan bipolar dalam lingkungan mereka. Tak jarang, stigma juga membuat penyintas bipolar merasa malu dan menyembunyikan fakta tentang diagnosa-nya karena takut kehilangan pekerjaan atau mengalami diskriminasi di tempat kerja.
Stigma dapat bertransformasi menjadi self-stigma yang memperburuk keadaan untuk penyintas bipolar. Mereka yang seharusnya mendapatkan dukungan untuk tetap berjuang demi perawatan mereka, justru akan merasa putus asa. Self-stigma yang merupakan transformasi dari stigma masyarakat pada akhirnya akan tampak pada berkurangnya self-esteem sehingga penyintas bipolar mungkin tidak dapat berfungsi dengan baik secara psikologis maupun sosial. Oleh karena itu, pentingnya kita mengedukasi masyarakat mengenai isu Kesehatan mental untuk menghilangkan mitos dan kesalahpahaman yang selama ini terus berkembang. Masyarakat perlu memahami bahwa bipolar bukanlah aib, melainkan kondisi medis yang dapat dikelola dengan baik melalui pengobatan dan terapi. Dukungan dari keluarga, teman, dan lingkungan kerja menjadi salah satu faktor yang penting dalam membantu penderita menjalani kehidupan normal.
Jika ada tanda-tanda mereka ingin menyakiti diri sendiri atau orang lain, segera hubungi profesional atau layanan darurat. Di Indonesia, kamu bisa menghubungi hotline seperti Sejiwa (119 ext 8) atau Into The Light Indonesia. Ingat, dukunganmu sangat berarti, tapi penanganan medis tetap yang paling penting untuk kondisi ini.
Jangan self diagnose!
Setelah membaca artikel ini, kamu merasa ada yang tidak beres dengan mood kamu? Bagus dong, Hal ini menunjukkan kamu aware terhadap kesehatan mental kamu, tetapi jangan langsung membuat label pada diri sendiri bahwa kamu bipolar ya! Gejala yang kamu baca disini bisa jadi mirip, tetapi hanya tenaga profesional yang bisa memastikan kondisi kamu yang sebenarnya. Jangan takut untuk mencari bantuan pada psikolog atau psikiater.
Referensi
Association, A. P. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. In American Psychiatric Association. https://doi.org/10.1016/S0040-8166(95)80062-X
Dozois, D. J. A. . (2019). Abnormal psychology : perspectives.
Flaurensia, S. (2025). Stigma dan Dampaknya terhadap Pasien Bipolar Disorder. Social Connect. https://socialconnect.id/articles/stigma-dan-dampaknya-terhadap-pasien-bipolar-disorder
Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Rathus, B. G. (2005). Abnormal Psychology in a Changing World. In Pearson. https://doi.org/10.1515/9780773571921-013
Maulina, C. D. (2025). Gangguan Bipolar. Halodoc. https://www.halodoc.com/kesehatan/gangguan-bipolar?srsltid=AfmBOooLYqj4B3fuUFmvEzz86vMbxwHa7FpUZvxgrJkL_ewRhm0MgPpB